Ads 720 x 90

Kisah Inspiratif Bela Schmidt: "Selesai Lebih Baik daripada Sempurna".

"FINISHED IS BETTER THAN PERFECT"
Saya sering membaca status dari Prof Hendra Hermawan yang sangat menginspirasi dan memotivasi. Nah, kali ini akan mereview ulang kisah dari Bela Z. Schmidt yang telah ada di status Prof Hendra. 
kisah inspiratif Béla Z Schmidt
Sumber: https://www.nature.com/articles/d41586-019-00560-9

Kata beliau, pada awal karirnya beliau berpikir tidak akan ada hambatan untuk mendapat tenure. Beliau punya mentor PhD yang hebat dan posisi postdoc yang mantap. Saat umurnya mencapai 41 tahun, setelah jadi postdoc selama 12 tahun, beliau mulai mencari posisi tenure-track. Saat itu beliau punya 19 paper, 2 book chapter, dan 10 abstrak konferensi. Tidak begitu wah, tapi cukup lah, katanya.
Beliau melamar 57 posisi akademik tenure-track, mulai dari universitas riset top, universitas pendidikan tidak top, bahkan "community college". Ada 4 institusi yang menawarkan interview, tapi tidak ada yang sukses. Dia juga melamar ke 22 posisi di industri dan 25 posisi di organisasi pemerintah di Amrik sana. Tidak ada balasan. Total lebih dari 100 lamaran telah dikirimnya selama 3 tahun.
Selama itu beliau telah mengikuti banyak seminar dan pelatihan tentang pengembangan karir. Pesan yang selalu didapat: "Kamu harus kerja keras dan bangun network untuk maju". Beliau sudah melakukan keduanya. Akhirnya dia menyerah, tetapi tetap penasaran kenapa orang lain berhasil, dia tidak. Padahal dia merasa pintar dan bekerja keras juga seperti mereka. Lalu dia melakukan wawancara dengan 50 orang ketua lab (principal investigator, PI) untuk mengerti kenapa dia gagal. Dan berikut ini pelajaran yang dia petik, agar yang lain tidak mengulang kesalahannya:
  • Accept your data: Sukses lebih bergantung kepada orang yang menjalankan riset daripada topik risetnya. Dulu Bela terlalu kritis dengan datanya dan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencari penjelasan alternatif dibanding menerima bahwa dia sudah di jalur yang benar lalu melangkah ke tahap berikutnya. Dan akhirnya dia tidak publish apa-apa.
  • Own your project: Peneliti hebat tidak harus minta izin untuk melakukan "sesuatu", dia cukup memberi tahu PI-nya tentang apa yang telah dia buat. Dulu Bela pernah mendapat data menyimpang yang bisa membuka arah riset baru, tetapi dia tidak mengejarnya dan memilih kembali ke rencana riset yang sudah ditentukan. Sebuah peluang publikasi menarik telah hilang.
  • View yourself in your desired role: Salah seorang PI ketika ditanya sudah berapa lama menjadi PI, jawabnya: "Saya selalu menjadi PI, meski di lab orang lain". PI lain juga sama, mereka memandang supervisornya sebagai calon sejawat, bukan atasan, menciptakan hubungan dua ilmuwan yang setara yang bekerja untuk tujuan yang sama.
  • Ward of despair: Ketika datamu kontradiksi dengan hipotesis PI, kamu mungkin kecewa dan putus asa, sehingga produktivitasmu menurun. Ingat, "students should know that PIs are wrong 90% of the time". Dalam sains, kamu harus memotivasi diri sendiri untuk bangkit, tidak akan ada orang lain yang melakukannya untukmu.
  • Maximize your time: Buat dan patuhi jadwalmu karena dalam riset waktu akan terasa cepat. Tiba-tiba masa study-mu sudah akan habis tetapi belum ada data yang bisa dibuat publikasi. Dimana-mana dana riset dan beasiswa bersifat kompetitif, tidak ada kepastian kamu akan mendapat waktu tambahan.
  • Outline your goals: Selalu rencanakan langkah selanjutnya. Para PI itu, kata Bela, ketika mereka memulai PhD, mereka sudah memikirkan kemana harus postdoc. Ketika memulai postdoc, mereka sudah tahu kemana akan melamar posisi assistant professor. Tentu rencana mereka berubah dari waktu ke waktu, tetapi mereka selalu punya rencana untuk dijalankan.
  • Trust your intuition: Banyak PI yang bikin keputusan cepat dengan berani, "using their gut", sementara Bela selalu sebaliknya. Dia merasa bahwa ilmuwan harus membuat keputusan berdasarkan informasi lengkap dan analisis mendalam. Kamu akan lebih banyak belajar dari eksperimen yang dilakukan sehari dibanding dari tiga hari cuma memikirkannya.
  • Finish: Selesai lebih baik dari sempurna, "finished is better than perfect". Jika kamu tidak publish sesuatu dari apa yang sudah kamu kerjakan, ibarat kamu tidak melakukan kerja apa-apa. Kamu hanya menghabiskan waktumu, waktu dan uang PI-mu. Jika kamu tidak mampu membuktikan hipotesismu karena tidak cukup waktu untuk melakukan semua eksperimen yang diperlukan, lebih baik untuk membuktikan dan publish sebagian dari itu, daripada mencoba terus membuat cerita lengkap dan berakhir dengan manuskrip yang tidak selesai dan tidak pernah di-submit.


Dikutip dari status Facebook Prof Hendra Hermawan, dengan sumber asli tulisan dari Bela Z. Schmidt di Nature.com.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter